SEPENGGAL CERITA, SEBUAH PENGALAMAN


Hubungannya dengan kamu termasuk bagian yang sangat besar dalam hidupnya. Terutama karena dia banyak berkembang dalam hubungan kalian. Dia berusaha menjadi lelaki yang bisa kamu banggakan, yang bisa bekerja sama denganmu, bisa membantumu, bisa mendukung, bisa menyayangi, dan bisa bersama denganmu selamanya. Sayangnya, alam semesta tidak merestui kalian.

Terus terang dia sesekali melihat ke arahmu untuk memastikan masih ada senyum yang dulu membuat dia jatuh hati padamu. Meski dia tahu itu bukan untuknya lagi. Ingatkah kamu kemana saja kalian pergi dulu? Tentang genggaman tangan pertama kala itu, dia jelas tak mau melepasnya karena dia tahu, tanganmu adalah bagian tubuh ternyaman yang pernah dia genggam. Rebahan pertamanya, serta hal-hal pertama yang dulu kalian lakukan bersama. Tapi mungkinkah engkau mengingat jelas tentang kalian sebagaimana dia mengingatnya? Ah, rasanya dia ingin menanyakan banyak hal padamu. Atau sesekali bersenda gurau bersamamu.

Di dalam rengkuhan pelukmu sudah cukup membuatnya tenang. Saat memelukmu dengan erat, entah kenapa dia kala itu merasa bahwa dia yakin akan selalu bisa menemanimu, mendampingimu, membahagiakanmu. Kamu adalah alasan utamanya menjadi berubah, hidup sehat, makan tepat waktu dan hal positif lainnya. Dia membutuhkanmu.

Masih ingat coklat pertama pemberianmu? Bekal makan siang yang kau kirim ke kantornya? Atau hal-hal kecil lainnya yang membuat dia tersenyum sepanjang hari? Sering kali engkau bahagiakan dia dengan hal-hal kecil seperti itu.

Kala itu engkau tidak lagi hadir di tiap paginya. Tak lagi menanyai hal-hal sepele seperti “Sudah makan belum?” dan engkau bahkan tidak menyertakan kata “Sayang” lagi dalam setiap pesanmu. Engkau hanya sesekali muncul dalam seharian itu. Bahkan ketika malam datang, engkau menghilang. Entah apa yang engkau lakukan kala itu. Dia terkadang merasa engkau begitu jauh. Dia terkadang mulai merasa engkau ada yang lain. Ternyata kau hanya bosan, dan tak ada lagi dia dihatimu. Baginya itu cukup jelas.

Akhirnya dia datang menemui, jelas atas dasar rindu. Dia menemanimu, tapi ada yang tak biasa dalam hati pertemuan kalian tak diisi dengan hal-hal yang membuatmu bisa tertawa dengannya seperti biasanya. Yang menakutkan adalah dia tak menyadari bahwa pelukan itu akan menjadi pelukan terakhir darimu, dan ciumannya di keningmu menjadi ciuman terakhir sebelum ini semua terjadi. Dan, dia tak menyadari bahwa telepon-video itu akan menjadi kali terakhir dia mendengar suaramu dan melihat wajahmu.

Dia terlalu berani mati-matian memperjuangkan kamu karena yang dia punya memang cuma kamu. Dia langsung menutup hatinya rapat-rapat, bukankah lebih baik seluruh energinya dikerahkan untuk satu orang saja? Namun, saking rapatnya dia tutup pintu hatinya ini, dia jadi membutuhkan waktu yang lama untuk membukanya kembali. Hari-harinya kini berbeda tanpamu.

Tidak ada yang bisa baik-baik saja setelah berpisah dengan orang yang sangat disayangi. Terlebih lagi, perpisahan itu bukanlah keinginannya, namun itu yang kamu inginkan. Tapi tentu saja dia akan mengiyakan keinginanmu, karena dia sangat menyayangimu. Like he said when you were together, he love you always and it was an honor to have the chance to be your man. Namun dalam kesendirian itu dia merindukanmu, meski kadang dia sadar itu salah.

Sampai saat ini dia mungkin masih berhasil berpura-pura bahwa dia bisa baik-baik saja tanpamu melalui unggahan twitter-nya, atau insta-story. Dia minta maaf atas rencana yang berakhir hanya menjadi wacana. Tuhan tahu apa yang dia inginkan, hanya mungkin belum saatnya.

He is just a man who trying to survive. Well, it takes times. There’s no way to comfort him, it’s suffocating. He just have to get through it. Time heals, they said. Don’t know when yet.

Bandung,
Minggu, 5 April 2020.

Comments

Popular Posts