MEMOAR TIGA PULUH TAHUN DI DUNIA

DURASI LAMA BACA ± 5 MENIT.


Tiga puluh tahun, usia yang masih cukup muda untuk general check up ke lab kesehatan tapi agak sedikit ketuaan untuk pergi ke club kalau hanya sekedar cari free pass open table. Usia yang kalau dibawa ke sektor pemerintahan masuk ke dalam generasi muda, dianggap tua kalau kita ada di sektor swasta dengan level staff ntah dengan branding senior staff atau jabatan dengan gimmick nama sejenis. Banyak hal yang mendefiniskan umur 30 tahun seperti apa, tapi bagi saya umur tiga dekade ini umur yang patut disyukuri, baik-buruknya, senang-sedihnya dan berbagai pengalaman perasaan yang pernah dilalui.

Saya kira di umur 30 tahun ini, saya akan lebih dewasa seperti banyak yang ditulis oleh kontributor-kontributor di media-media online, kalau dewasa di umur 30-an akan seperti ini, akan seperti itu yang ujung-ujungnya menjadi lebih bijaksana dibanding umur 20-an. Tapi ternyata sama saja, kok. Yang beda sekarang saya Cuma agak malu ke kedai kopi kalau sedang dipenuhi oleh anak sekolah, terkesan seperti om-om pervert, karena mungkin saya belum juga menikah atau karena pikiran yang berlebihan.

Saya ingat pernah menulis tentang bagaimana saya akhirnya menginjak umur 20-an (20 taun, okey.), kalau dilihat kembali ternyata lebih banyak drama yang saya ingat sekarang gak penting-penting amat, tapi waktu itu rasanya seperti susah dan berat. Alhamdulillah, saya bisa melewati 10 tahun selanjutnya dengan selamat. Dari umur 20 ke 30 ini banyak sekali pelajaran yang gak pernah saya sangka akan bermanfaat untuk hidup dari waktu ke waktu. Nah di tulisan ini, saya akan mengulas beberapa pelajaran hidup yang pernah saya pelajari dan saya praktikan, kalau tidak suka dengan tulisan ini, ditutup saja. Kalau penasaran, mangga, boleh disimak. Bismillahirahmanirahim.

Sepuluh tahun lalu, saya berani bilang bahwa orang tua, khususnya ibu saya adalah segalanya itu klise. Tak sadar banyak ajaran dan didikannya secara tidak langsung membuat saya seperti sekarang tentunya dalam konotasi “baik”, mungkin orang tua kalian hebat bagi kalian, tapi bagiku setelah menjalani 10 tahun terakhir ini dalam hidup saya bisa lantang yakin bahwa IBUKU ADALAH SURGAKU, IBUKU ADALAH HIDUP-MATIKU, sebelum semakin terlambat, saya janji dalam hati bahwa berbakti ke ibuku bukan hanya lip-service tapi tindak aksi nyata. Kebahagiaannya, senyum lebarnya adalah bahan bakar untukku agar selalu semangat jalani hidup walau getir dan hal tak menyenangkan lainnya siap menyambut sejak kita keluar pagar rumah. Dulu, mungkin hanya senyum geli ketika mendengarkan lagu Melly Goeslaw yang berjudul Bunda, tapi kali ini ketika Nadin Amizah menyanyikan lagu bertaut tak terasa air mata menetes, bahwa nyata ketika kita bertumbuh, pun orang tua kita menua. Mengutip lirik Nadin di lagu bertaut, 

Bun, kalau saat hancur ku disayang, apalagi saat ku jadi juara. Saat tak tahu arah kau di sana, menjadi gagah saat ku tak bisa,Semoga lama hidupmu di sini, melihatku berjuang sampai akhir. Seperti detak jantung yang bertaut, nyawaku nyala karena denganmu 

semoga ibu saya akan panjang umur, sehat walafiat, bisa melihat saya hingga puncak kebahagiaan saya dalam hidup, tolong teman-teman juga ikut doakan, ya. Karena bakti saya saat ini dan sampai kapanpun tak bisa membayar apa yang sudah diperjuangkan ibu dalam merawat saya. Diurus oleh seorang single parent membuat saya sentimen terhadap hal-hal yang menunjukan perjuangan seorang ibu membesarkan anaknya, bahkan mendengarkan lagu Sean Paul berjudul rockabye saja saya air mata saya berderai, mengenang bagaimana ibu saya selama ini membesarkan saya dulu, padahal ibu saya ga kerja malem-malem, sama kaya saya PNS juga. wkwkwkwkwk. Bagaimana dengan kalian? Salam untuk orang tua kalian dari saya, ya.

Sepuluh tahun lalu, pertemanan itu ya berteman saja, kenal satu sama lain adalah apa yang saya sebut dengan teman. Ternyata berjalannya waktu selama sepuluh tahun terakhir saya baru paham kalau pertemanan itu ada tipenya tentu sepaket dengan merawat hubungannya. Sejauh ini ada 5 tipe yang saya pahami. Ada yang hanya sekedar kenal satu sama lain, ada yang teman biasa saja, teman main, teman bekerja, dan ada yang disebut teman sahabat yang disebut inner circle. Tentu banyak sekali teman yang hanya sekedar kenal ini, bisa bertemu dimana saja dan momen apa saja, ini tak perlu dirawat kalau satu misi dan visi biasanya akan awet, teman biasa saja dan teman main ini juga sama bisa bertemu dimana saja dan momen apa saja, merawat pertemanannya ya diperbanyak bertemunya, walau tetap akan menyembunyikan kekesalan dan hal-hal yang sebetulnya tak perlu dibicarakan dan disimpan, nanti juga kalau kita masing-masing muak akan bubar jalan dengan sendirinya, dan akan membentuk kolam pertemanan baru lagi. Teman kerja ya jelas partner kita di dalam pekerjaan, entah di kantor, partner bisnis dan sebagainya. Ada yang awet sampai pisah kantor tetap bertemu, atau sama sekali tak pernah berhubungan secara intens karena nggak cocok aja, tak ada rasa sinis atau benci. Yang terakhir teman sahabat atau inner circle, saya punya beberapa inner circle, tapi yang dalam dan paling awet ini teman-teman sekolah saya, isinya ya gak nambah, gak berkurang, tetap segitu dan merawatnya juga tak sulit. Kita tak perlu sering bertemu, sering bercerita dan lain-lain, tapi kalau perlu sesuatu ya mereka inilah yang saya hubungi duluan, sudah tak pernah kecewa, bangga pun sudah biasa, mendengar, dan melihat sehat dan bahagia adalah cukup bagi kami, menjalani hidup masing-masing, memperjuangkan mimpi masing-masing dengan caranya masing-masing sambil sesekali bertemu. Bagaimana dengan kalian? Semoga selalu punya inner circle yang selalu megingatkan kalian kalau keluar batas, dan mendukung hal-hal baik dari kalian

Sepuluh tahun lalu tentang karir, saya sudah punya cita-cita jadi Pegawai Negeri Sipil tapi yang saya tak tahu adalah ternyata tiap-tiap instansi tempat PNS bekerja itu payroll-nya beda-beda, bahkan dari level kantor atau unit kerja, hingga Instansinya. Sempat bekerja sebagai tenaga kontrak di level pemerintah provinsi cukup lama, membentuk etos kerja saya lebih baik dengan tempat saya bekerja sekarang saya yakin dan berani bertaruh untuk itu. Saya tak kaget ketika pindah ke level pemerintah dibawah provinsi bertemu dengan birokrat tua bebal di level staf yang sudah tau bodoh tapi ambisius ingin jadi pejabat, birokrat tua yang tidak punya keinginan untuk berkembang, yang begini cukup didiamkan saja, nanti juga minta bagian. Saya juga tidak kaget dengan pejabat bodoh yang sering salah ambil keputusan dan menganggap generasi kami adalah generasi yang paham teknologi secara paripurna, tapi saya lebih kaget kalau PNS di level umur saya diatas 10 tahun atau dibawah 10 tahun bodoh dalam menggunakan gawai atau aplikasi untuk bekerja. Hasil dari saya bekerja sebagai tenaga kontrak sebelumnya, saya lebih piawai bersilat lidah fafifu-wasweswos dengan pejabat cerdik, pintar dengan segala latar belakangnya, dan faham bahwa mereka jangan dilawan karena bukan lawan yang seimbang, bisa habis karirku kalau kontra dengan mereka. Sejauh ini saya selalu ingin kembali ke Bandung, #mutasihargamati adalah mantra ku dalam bekerja, selain rumahku yang jarang diisi ini harus diisi karena KPRnya selalu kubayar dan membuat tunjanganku yang tak seberapa tapi cukup untuk disyukuri ini habis, lalu banyak hal positif yang bisa saya ambil daripada disini, dan mudah-mudahan dapat segera terwujud cita-cita mutasi kembali ke Pemerintah Provinsi ini. Bagaimana dengan karir kalian? Semoga apa yang kalian kerjakan, juga kalian cintai. Kalaupun tidak, seperti kata minke pada Novel Bumi Manusia "Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri".

Sepuluh tahun lalu sampai sekarang pun saya tetap bodoh dalam urusan cinta hahahaha. Jadi tak banyak yang bisa saya ulas. Bukan tak pernah berpacaran, tapi sering (atas asumsi saya) atas kebodohan saya ini, saya ditinggal banyak perempuan yang saya cintai dan sayangi baik pergi sebagai mantan pacar atau yang tak sempat dimiliki, ya dianggap jadi pelajaran saja walau sepertinya saya belum juga lulus dalam bab percintaan ini. Harapan yang pupus, atau cidera hati serius sudah pernah saya alami. Bedannya mungkin, diusia saya yang cukup matang ini, nampaknya dan harusnya bisa lebih bijak dan banyak belajar urusan cinta-cintaan ini, random memang tapi urusan ini cukup penting mengingat saya masih tidak mau mati melajang atau tua renta sendirian saja. Saya minta doanya semoga diberikan yang terbaik urusan ini, kalaupun dia yang terbaik saya sangat senang sekali, akhirnya ada yang menerima kebodohan saya dengan sabar selalu mencintai di waktu saya juga selalu belajar untuk menjadi versi terbaik saya agar dia juga semakin bangga dan cinta dengan saya yang diperhatikan belum ada unggul-unggulnya, kaya raya belum, tampan pun tidak. Kalau bukan dia, tolong dikuatkan saya nya nanti, dan semoga diberikan penggantinya yang terbaik yang Tuhan kasih. Bagaimana dengan kalian? Semoga selalu dikelilingi cinta yang baik, dan positif bagaimanapun bentuknya.

Akhir kata, tiga puluh tahun ini patut disyukuri, mampu melewati sepuluh tahun terakhir saja saya sudah bahagia, apalagi melanjutkan hingga 30 tahun selanjutnya, dan selanjutnya. Saya memang masih belum banyak paham dan masih banyak belajar tentang banyak hal di dunia, apa yang baik bagiku, yang buruk bagiku. Karena dalam hidup, yang saya yakini adalah orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak, dia takkan menjadi apa-apa. Semoga dikuatkan, Panjang umur, diberikan kekuatan ketika bersedih, dan diberikan rasa syukur ketika berbahagia. Hatur nuhun. Mari melanjutkan hidup dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya. Saya tutup memoar ini tanpa edit.

 

Sukabumi, 28 Desember 2022,

yang siap menyambut 30 tahun selanjutnya dan selanjutnya lagi,


Ilham Mochammad Saputra

Comments

Popular Posts