Ode untuk Ricky Yacob Siahaan: Sang Riffmeister Telah Pulang

Kadang, kehilangan datang diam-diam. Tapi kali ini, ia datang seperti petir—keras, tak terelakkan, dan menyisakan sunyi yang panjang. Ricky Yacob Siahaan, atau seperti banyak dari kita memanggilnya: Ricky, sang Riffmeister telah berpulang. Ricky bukan hanya gitaris. Dia adalah napas Seringai. Bukan karena sekadar memainkan riff, tapi karena dia menjadi riff itu sendiri—keras, padat, tanpa kompromi, tapi tetap punya arah. Gaya mainnya bukan soal pamer jurus, tapi soal menyampaikan amarah dan akal sehat dalam bentuk paling jujur: distorsi.

Dari awal 2000-an, Ricky ikut menulis ulang sejarah musik keras di negeri ini. Bersama Seringai, dia tak cuma membuat lagu, tapi membangun gerakan. Nada-nadanya bukan sekadar pemicu moshpit, tapi juga jadi kode etik bagi yang lelah dengan kepalsuan. Dia berdiri teguh di garis keras musik dan pikiran. Tapi di balik kegaharan panggung, Ricky adalah orang yang hangat, tenang, dan mendalam. Dia nggak banyak omong, tapi selalu punya isi saat bicara. Penikmat buku, pengamat tajam, dan orang yang bisa tertawa lepas saat ngobrolin hal remeh. Kombinasi langka.

sumber: ig @aparatmati13

Ricky bukan cuma gitaris Seringai. Ia adalah arsitek suara, penulis perlawanan dalam bentuk distorsi. Riff demi riff yang dia bangun, bukan hanya membuat kepala mengangguk. Ia mengajak berpikir. Mengajak melawan. Mengajak sadar. Ia menciptakan bahasa. Bahasa keras yang tak kehilangan arah. Bahasa bising yang justru jernih. Seperti yang pernah mereka nyanyikan:

"bising ini bukan cuma suara. Ini adalah perlawanan"

 - Adrenaline Merusuh

Dan Ricky adalah bentuk paling murni dari kalimat itu. Distorsinya bukan kebisingan kosong. Itu sikap. Itu nilai. Itu pernyataan tentang dunia, tentang keberanian untuk tetap jadi diri sendiri, walau dunia memaksa sebaliknya.

Dia tidak bicara banyak, tapi setiap nada yang keluar dari gitarnya seperti kalimat panjang yang tegas. Di atas panggung, dia bukan hanya memainkan lagu, dia menyampaikan isi kepala dan isi hatinya lewat ampli dan pick yang digenggam erat.

sumber: ig @omuunium

Salah satu lagu ciptaannya, Canis Dirus, bahkan begitu berkesan sampai jadi nama email utama saya sampai sekarang. Sesederhana itu pengaruh Ricky masuk ke hidup banyak orang—diam-diam, dalam, dan terus menetap.

Kini, kita tahu, tangannya tak lagi merangkai riff. Tapi distorsinya tak pernah benar-benar padam. Ia hidup dalam rekaman. Dalam telinga yang menyimpan “Tragedi.” Dalam anak-anak muda yang lagi nyari sound tebal pakai pedal murah. Dalam skena yang pernah disentuhnya, dan masih mencari api yang sama.

Karya-karyanya adalah jejak yang tak bisa dihapus. Dan Ricky, entah dia suka disebut legenda atau tidak, telah jadi satu. Bukan karena dia terkenal, tapi karena dia bermakna. Dan itu jauh lebih penting.

Terima kasih, Ricky. Riffmu tetap bergema. Dan seperti yang selalu kamu ajarkan—bising ini bukan cuma suara. Ini adalah warisan. Selalu, Selalu, Selamanya.

Rock in power, Riffmeister.


Serigala Militia,

송만세13






 

Comments

Popular Posts